Tangisan Tersakiti
Aku
langsung menuju kamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhku, di bawah tetesan
air hangat yang membasahi tubuhku, aku mengenang kembali masa-masa bahagia
dengan Ari, kami yang berpacaran selama 7 tahun, cinta anak SMA sampai kuliah, Ari
adalah cinta pertamaku dan sangat sulit tuk kulepaskan, dia yang telah mencuri
hatiku, dia yang telah bersemayam di hatiku, namanya telah terukir di dinding
jantungku. Namun, mengapa dia sangat berbeda, dia sudah berubah tak seperti
dahulu. Dia menciptakan senyuman, banyak senyuman dibibirku tapi itu dulu
sekarang dia menyakiti hatiku, sangat banyak menyakiti, menimbulkan jatuhnya
airmataku yang tak bisa ku hitung jumlahnya.
Aku
pergi dan menemuinya, dia membawa ku ke rumahnya dan sesampainya di rumahnya
aku melihat Ani kekasihnya. “ada apa ini? Kenapa kau mengajakku ke sini?”kataku
bingung. “aku menjelaskan bahwa aku dan Ani telah putus”kata Ari. “terus
hubungannya denganku?”tanyaku. “bisakah kita seperti dulu lagi?”kata Ari
seenaknya. Namun itu membuat hatiku meleleh, tiba-tiba Vika datang. “Andis, apa
yang kau lakukan disini?”tanya Vika dengan wajah memerah. “aaakkkk......”aku
ingin bicara namun tak bis aku hanya terdiam. “kau itu bodoh atau apa, sudah
berkali-kali Ari selingkuh di belakangmu, namun kau tetap menyukainya”kata Vika.
“ini bukan salah kakakmu Vika”sambung Ari. “kau juga Ari, pria macam apa kau,
mempertemukan mantan dan juga kekasihmu di rumahmu, apa yang kau harapkan dari
semua ini, kau ingin berpacaran dengan mereka berdua, hhakk, kurang ajar
banget”kata Vika emosi.
“aku
memang masih menyukainya (aku berdiri dan menatap Vika) masih sangat
menyukainya, dia cinta pertamaku, hampir seluruh hari-hariku ku lewati
dengannya, tiap detikku, menitku, jamku, hariku semuanya bersamanya, aku tidak
mudah melupakannya, hatiku sangat sakit, sakit sekali, bahkan menagis darahpun
tak akan bisa mengobati sakit hatiku karena menyukainya”kata ku Vika memelukku.
“aku tau kak, aku juga pernah merasakannya namun kau tidak setegar diriku dalam
menghadapi kisah cinta ini”.
Kau
tak pernah menyadari lukanya hatiku degan kelakukanmu, aku yang begitu bahagia
jika bersamamu seakan kau telah menjadi desahan nafasku, aliran dalam darahku,
aku tak bisa dan tak akan bisa lupakan cintamu untukku dulu, aku tak akan bisa
menghilangkanmu dari benakku, aku tak mungkin bisa melupakan janjimu “ndis,
sekarang dan selamanya kita akan selalu bersama, hatiku hatimu akan di
persatukan dalam janji ikatan suci dimana seluruh keluarga kita akan
menyaksikannya, i love you my Andis”. Tapi apa sekarang? Semua janji itu telah
sirna, semua janji itu telah musnah, bahkan jika kau bisa kembali padaku apakah
aku bisa mencintaimu seperti dulu, kita saling mencinta.
Tuhan,
apa salahku sampai aku menderita karena cintanya, tak pantaskah aku bahagia
juga, begitu perih luka yang di torehkannya, begitu pedih duka yang
ditinggalkannya, mungkinkah aku bisa jatuh cinta lagi? Bisakah aku menjalin
cinta lagi? Aku bisa saja menangisinya, mungkin bisa, bahkan sangat bisa, namun
apa yang aku dapat jika aku menangisinya? Apa yang akan terjadi padaku jika aku
menangisinya? Cinta ini sangatlah sakit, cinta ini sangatlah perih, aku yang
sudah terbiasa memanggil namanya, terbiasa melihatnya tersenyum, terbiasa
mendengarnya harus berhenti dari sekarang dan untuk selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar