mereka bilang harus sabar pasti ada hikmahnya,
mereka bilang harus sabar pasti akan diberi petunjuk,
mereka bilang ini, itu tapi apa mereka bisa'
merasakan yang kurasa, yang kualami.
sakit tidak pernah se sakit ini,
marah tidak pernah semarah ini,
bingung tak pernah sebingung ini,
harus bagaimana menghadapi masalah ini.
cobaan membuat orang lebih dewasa,
apa aku kurang dewasa menyikapi semua masalahku?
musibah membantu kita untuk menjadi tegar,
apa aku kurang tegar melawan cobaan ini.
takdir seakan mempermainkan ku,
aku tak pernah bermain-main dengan hidup ini,
tak pernah sekalipun jua,
harus bagaimana? harus apa sekarang ?
kemana sekarang ku meminta petunjuk selain dariMU
namun, apa doaku sampai padaMU?
aku tak pernah ragu akan kekuasaanmu. namun aku ragu akan
kesabaran ku menantikan petunjuk dariMU.
dosakah aku jika menanyakan kekuasaanmu?
salahkah aku jika tak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa?
hinakah aku jika hanya mengharap bantuan dari Mu saja?
apa ? apa ? yang harus ku lakukan ?
Hidup ini penuh dengan warna dan rasa yang di rasakan oleh hati dan terungkapkan oleh bibir dan tertuang dalam bentuk tulisan. Aku mengunci hatiku tuk merasakan cinta dan membuka mataku tuk melihat setiap kejadian yang bernuansa senang, sedih, terluka, kehilangan, dll. Dan inilah setiap kata, kalimat yang ku ukir dari setiap kejadian yang ku lihat.
Selasa, 30 Oktober 2012
Minggu, 28 Oktober 2012
Menghujan perih
Menghujan perih diatas laraku,
terbanjiri seribu tetes air mataku,
aku berdiri di tengah kesunyian batinku,
aku takut bicara di saat semua berbicara.
bagai badai yang menghempas rasa ini,
bagai ombak yang terhampar di batu karang,
hatiku perih dan pedih menghadapi segala ujian ini,
tangis dan tangis yang tersimpan dalam diri ini,
pernah ku coba untuk sendiri dalam sakit ini, namun ku tak sanggup
ada luka yang begitu mengiris dada hingga tersayat perih rasanya,
pernah terlintas dalam benak ingin berlari namun kemana harus berlari,
diriku bagaikan tanah yang dibanjiri air hujan, hatiku bagaikan karang yang
di hempas ombak, dan mataku bagaikan pohon yang selalu disayat ribuan butiran debu.
terbanjiri seribu tetes air mataku,
aku berdiri di tengah kesunyian batinku,
aku takut bicara di saat semua berbicara.
bagai badai yang menghempas rasa ini,
bagai ombak yang terhampar di batu karang,
hatiku perih dan pedih menghadapi segala ujian ini,
tangis dan tangis yang tersimpan dalam diri ini,
pernah ku coba untuk sendiri dalam sakit ini, namun ku tak sanggup
ada luka yang begitu mengiris dada hingga tersayat perih rasanya,
pernah terlintas dalam benak ingin berlari namun kemana harus berlari,
diriku bagaikan tanah yang dibanjiri air hujan, hatiku bagaikan karang yang
di hempas ombak, dan mataku bagaikan pohon yang selalu disayat ribuan butiran debu.
Sabtu, 06 Oktober 2012
LaptopKU Pergi
malam itu tanggal 6 oktober 2012 aku yang lelah pulang dari mengajar harus mendengar sesuatu yang sangat tidak mengenakka hati. Aku menunggu temanku untuk mengantarkan laptopku yang ceritanya akan di perbaiki karena laptopku mengalami kerusakan yang cukup parah. Aku keluar dengan buru dari kamar kostku setelah menerima pesan dari temanku itu yang smsnya berisi "adama diluar", saat langkahku mendatanginya aku melihatnya sedang menghisap rokok aku kaget dan segera memukul lengannya dan menyuruhnya membuang rokok itu padahal dia adalah seorang wanita. tidak sepantasnya wanita merokok aku menatap matanya yang kemerahan dan melihat matanya bekaca-kaca seperi telah meneteskan air mata. dia pun menjelaskan kejadian itu padaku proses dimana laptop ku dicuri oleh seseorang. aku temenung dan hanya termenung dan mengitari motornya selama beberapa kali aku tidak tau mau berkata apa-apa, aku adalah anak yang tidak pernah meneteskan air mata terakhir ku menangis saat nenekku meninggal dunia. Aku bingung dan tidak tau harus berbuat apa yang ku lakukan hanyalah duduk termenung dan mengepalkan kedua tanganku aku hanya memandang lurus ke depan dan memandang langit yang tidak diterangi oleh cahaya bintang aku bertanya pada langit "kenapa hal seperti ini harus terjadi padaku??" air mataku pun jatuh dengan sendirinya, jatuh jatuh berderai di pipiku, malam itu adalah kedua kalinya aku meneteskan air mata perih dan sangat banyak air mata yang jatuh, aku tidak bisa berkata apa-apa temanku yang duduk di dekatku meminta maaf dan terus meminta maaf dan berjanji akan menggantinya walaupun sebenarnya bukan sepenuhnya salahnya. Orang yang memperbaiki laptopku lah kemalingan dan ada 3 laptop dan 1 buah handphone yang di curi, orang itu berjanji akan menggantikan laptopku. Tapi bagiku walau separah apapun laptopku aku tetap menginginkannya laptop itu adalah hadiah dari orang tuaku di laptop itu banyak data kuliah, data novel ku tulisan tangan dan hasil buah pikirankku, dan semua dokumentasi foto ku bersama teman dan keluargaku. Hatiku sangat sakit sakit sekali jika mengingat laptopku. aku berusaha ikhlas namun begitu banyak kenanganku dengan laptop itu.
Langganan:
Postingan (Atom)