Selasa, 01 Mei 2012

3 tahun Lalu

keadaan tiga tahun lalu sangat membekas diingatanku, tak akan pernah bisa ku lupakan, bukan hanya tiga tahun lalu namun tahun2 sebelumnya. puang, mama, dan adikku kaget dan khawatir melihatku, aku yang terbujur kaku di pangkuan puangku, dengan tangan kiri ku yang berdarah, keringat dingin membasahi tubuhku, setiap ucapan ku begitu lemah dan tak bertenaga, 3 tahun lalu, disaat 3 hari menuju ulang tahun ku yang ke tujuh belas suatu malam aku mengiris tanganku sendiri dengan darah yang bercucuran, aku berjalan masuk ke kamar ku dengan penglihatan yang gelap dan kabur, mamaku  mulai heran dan memanggil ku tapi aku tak mendengar aku terus memasuki kamar ku dan terdengar suara mamaku memanggil puang ku, disaat puang ku masuk dan melihat ku di kamar aku telah terbaring di atas karpet hijauku dengan keadaan setengah sadar dan wajah yang pucat keputihan, orang tuaku mulai khawatir dan mencoba tuk memanggil-manggil namaku, mata ku yang sayup-sayup bisa melihat kekhawatiran dan kecemasan yang meliputi wajah orang uka mtuaku, adik kecil ku yang duduk di depan ku, kaget melihat wajah ku, dan terus bertanya pada orang tua ku. "ma, kenapa ippi? seperti orang mati mukanya, putih sekali". begitu polos pertanyaan adikku, mamaku terus berbicara pada ku, "ippi, bangun na, buka mata mu"kata mamaku, dan pergi ke dapur untuk mengamilkan ku segelas teh hangat agar perasaanku tenang, aku yang tertidur lemas di pelukan puang ku tak sadar kalau tubuhku begitu lemas, puang ku bertanya "nda ada jich kau lihat sesuatu na?" tanya puangku, entah apa maksud pertanyaannya, adik kecil ku memijat kaki ku dan terus menatapku dengan wajah ketakutan.
sempat terlintas dalam benakku bahwa mungkin aku akan pergi namun ternyata Tuhan masih memberikan ku  umur yang panjang, keadaan ku mulai membaik dengan sendirinya, aku mulai bisa menggerakkan tubuhku. warna wajahku kembali seperti semula, ternyata aku menjadi seperti itu karena ketakutan melihat darah yang bercucuran di kedua tanganku dan menetes-netes di lantai. sejak saat itu aku tidak pernah memberanikan diriku untuk melihat darah, aku tertawa jika mengingat kejadian itu aku hampir mati karena ketakutan melihat darah. 
Dan sejak saat itu juga orang tuaku sangat menjagaku dan tidak membiarkan ku untuk melihat darah. sampai saat ini pun adik kecil ku masih mengingat wajah mayat ku, dan menceritakan pada teman-temannya bahwa kakaknya hampir mati, wajahnya seperti mayat.
Dan ternyata bukan hanya aku yang ketakutan dan hampir mati jika melihat darah yang banyak adikku yang pertama pun juga mengalaminya, untungnya dia tidak ada waktu aku mengalami kejadian itu, entah apa yang akan terjadi jika dia melihat darah di tanganku.
Pernah suatu hari juga aku dan kedua adikku jatuh sakit, kami sakit secara bersamaan, masih teringat di ingatanku bagaimana khawatirnya orang tua ku mengurus kami, aku dan adik-adikku tidur di karpet yang sama terlentang di atas karpet yang sma karena jika tidur diatas kasur kami tidak akan muat dan akan sulit untuk menanganinya. mamaku bernazar dia akan puasa jika kami bertiga bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala. orang tuaku benar-benar kaget dan cemas kenapa kami betiga aku dan adik-adikku bisa jatuh sakit secara bersamaan, dan wajah kami pun pucat. tapi diantara kami bertiga adik kecilkulah yang paling cepat sembuh, lalu aku kemudian adik kedua ku. sejak saat itu aku mulai memiliki kontak batin dengan kedua adikku jika salah satu dari mereka sakit aku juga akan mengalaminya, 
Sejak saat itu saku mulai menjaga kesehatanku karena jika aku sakit salah satu dari adikku juga pasti sakit maka dari itu aku harus menjaga kesehatanku, entah mengapa kejadian seperti ini menimpa keluargaku namun hak ini membuat kontak batinku dengan adik-adikku semakin kuat dan tidak bisa ku pungkiri kalau mereka adalah nafasku. Dan orang tua ku adalah jantungku. tanpa mereka aku bukanlah siapa-siapa dan aku hanyalah sebuah tubuh tak bernyawa dan tanpa debaran jantung.
diantara tiga bersaudara aku lah yang paling sering sakit dan membuat cemas orang tuaku, aku berusaha untuk menjadi lebih sehat, dari hari kehari kesehatanku semakin membaik daya tahan tubuhku semakin kuat, aku bersyukur kepada Allah SWT karena di berikan kesehatan, dan aku juga berusaha untuk tidak mengeluh akan hal-hal yang sebenarnya bisa kulakukan, aku memiliki tangan, kaki, dan anggota tbuh yang lengkap dan akan aku gunakan semua itu selama aku mampu dan tanpa harus meminta bantuan pada siapapun.
Berusaha untuk menjadi gadis yang kuat, mandiri, dan tak pernah mengeluh akan hidup ini.
Menjadi contoh yang baik bagi nafas-nafasku yaitu adik-adikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar