Name : A. Selvi Novitasari Husni
Reg. Number : 105204006
Class : English Education A 2010
Subject : Sociolinguistic
Politeness languages in
Pinrang, between high level, middle/same level and low level.
Ada beberapa bahasa atau
penggunaan kata yang di pakai dalam percakapan sehari-hari dengan orang yang
lebih tua atau orang yang lebih muda dari lawan bicaranya yang biasanya di
lihat dari tingkat atau level seseorang di sebuah komunitas masyarakat , diantaranya
sebagai berikut:
1.
Puang :
sebuah panggilan yang biasanya di gunakan di sebuah keluarga yang berketurunan
bangsawan atau darah ningrat yang biasanya di kenal dengan nama darah biru,
panggilan ini di tujukan pada seorang ayah atau orang yang di hormati di
pinrang (high level).
Contoh : di sebuah keluarga yang berketurunan darah
bangsawan, seorang anak bertanya pada ayahnya apakah ayahnya sudah makan.
·
Anak :
puang, pura naki’ manre? (artinya : ayah, sudah makan ?)
2.
Ambo’ :
sebuah panggilan yang biasanya di gunakan di sebuah keluarga yang tidak
memiliki darah bangsawan atau yang biasanya dalam komunitas masyarakat
tergolong orang biasa (low level).
Contoh : di sebuah keluarga seorang anak yang meminta
uang pada ayahnya.
·
Anak :
ambo’, engka doi mu? Alekka yola ce’de, engka elo ku alli. (artinya : ayah,
apakah kamu punya uang, berikan aku sedikit ada yang ingin aku beli).
3.
Indo’ :
sebuah panggilan yang ditujukan pada ibu di sebuah keluarga biasa tergolong
dalam low level.
Contoh : di sebuah keluarga seorang anak mengeluh pada
ibunya karena dia tidak diikutkan dalam sebuah acara.
·
Anak :
indo’ maga na’ de’ mu paccioka lao bola na’ tika, ? (artinya : bu, kenapa kamu
tidak mengajakku ke rumahnya tika)
4.
Daeng :
sebuah panggilan yang di tujukan kepada saudara tertua di sebuah keluarga atau
biasa di kenal dengan kata kakak.
Contoh : di sebuah keluarga seorang adik berkelahi
dengan kakaknya dan di pisahkan oleh ibunya.
·
Ibu :
aja’ mu pakkui tu’ deng mu. (artinya : jangan bertindak kasar pada kakakmu )
5.
Mure’ :
sebuah panggilan terhadap tante atau om.
Contoh
: seorang keponakan bertanya pada tantenya.
·
Oh mure’ me loko lo’ kega ? (artinya :
tante mau kemana ?)
6.
Nure’ :
sebuah panggilan atau nama bugis seorang keponakan.
Contoh : seorang tante yang mencari keponakannya dengan
bertanya pada ibunya.
·
Kon ro iy pale nure’ ku, maga na de’
nangka ku itai’ (keponakan ku ada dimana, kenapa saya tidak pernah melihatnya)
7.
Aji’ :
sebuah panggilan kepada seseorang yang telah menunaikan ibadah haji.
Contoh
: 2 orang bertemu di pasar dan saling menyapa dan menanyakan pekerjaan.
·
Maga iy tu’ jama-jamangnge, lancara mu iy?
(artinya : bagaimana dengan pekerjaanmu, apakah lancar ?)
8.
Ta’ :
sebuah panggilan yang menyerupai kata kamu, namun di pinrang kata ta’ sangat
sopan dan biasanya di gunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau
orang yang di hormati.
Contoh : seorang cucu yang bertanya pada neneknya
tentang dimana letak qur’an yang di simpan sang nenek.
·
Ne’ kega ta’ taro quran ec ? (artinya : nek,
letak qur’annya dimana ?)
9.
iKo’ :
sebuah panggilan atau sapaan kepada seseorang yang sederajat atau seusai lawan
bicaranya, biasanya panggilan ini berdampak negative karena terlalu kasar jika
digunakan.
Contoh : 2 sahabat bercengkrama di sebuah lapangan
basket.
·
Maga na de’nangka ku ita ko’ ma’basket si
? malasa ko’ ga ? (artinya : kenapa saya tidak pernah melihatmu bermain basket,
apa kau sakit ?)
10. iki’ : jika iko’ digunakan dan penggunaannya
ternasuk dalam bahasa kasar, iki’ adalah kebalikan dari iko’ yang biasanya di
gunakan untuk seseorang yang lebih tua atau lebih sopan penggunaannya.
Contoh : seorang adik yang bertanya pada kakaknya.
·
Pura na’ ki dio, ? melo ki’ lo kega ko
pura ki’ dio ? (artinya : kakak, sudah mandi, mau kemana kalau sudah ?)
11. tabe’ : kata yang memiliki makna permisi.
Contoh : seorang anak yang bertanya pada orang yang
tak di kenalnya.
·
Tabe’, tette siaga ni makkukua e ?
(artinya : permisi, sekarang sudah jam berapa?)
12. idi’ : biasanya kata atau panggilan ini hanya di
gunakan pada pasangan kekasih atau suami istri di pinrang yang menunjukkan rasa
sopan dan hormat pada pasangannya.
Contoh : sepasang suami istri yang sedang bebicara di
dapur.
·
pura na’ ki’ ga, manre ? (suami bertanya
pada istrinya yang artinya : sudah makan ?)
·
pura na’, idi’ ? (sang istri menjawab yang
artinya : sudah, kalau kamu ?)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar